Wednesday, 28 March 2012


KAJIAN CERPEN

BERBASIS SOSIOLOGI SASTRA

Potret Kehidupan Petani Tebu dalam Cerpen Rendemen

Karya M. Soim Anwar [1]

Oleh: Erwin Purwanto[2]



Realita sosial dalam pandangan sosiologi sastra merupakan sebab musabab lahirnya sebuah karya sastra (cerpen). Sastra dapat dipandang sebagai suatu gejala sosial. Sastra yang ditulis pada suatu kurun waktu tertentu langsung berkaitan dengan norna-norma dan adat masa tersebut. Pengarang mengubah karyanya selaku seorang warga masyarakat dan menyapa pembaca yang sama-sama dengannya merupakan warga masyarakat tersebut[3].

Sastra menyajikan kehidupan dan kehidupan sebagian besar terdiri dari kenyatan sosial, walaupun karya sastra meniru alam dan dunia subjektif manusia [4]. Lahirnya sebuah karya sastra merupakan buah dari perenungan dari pengalaman batin sang pengarang. Kejadian yang terjadi disekitar pengarng secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi sebuah karyanya, hal ini merupakan wujud dari luapan batin pengarng sendiri.

Realita kehidupan kaum petani saat ini masih jauh dari harapa mereka,  di lahannya sendiri seperti di lahannya orang lain. Di mana-mana saat ini para petani dihadapkan dari berbagai permasalahan dari prosesnya penanamannya sampai penjualannya. Petani sendiri sebenarnya tak muluk-muluk meiliki keinginan aneh-aneh hanya ingin seperti pepetah jawa ayem, tentrem, gemah rimpah loh jinawi.  Masyarakat kita yang sebagian besar para petani adalah sebagai ujung tombak terpenuhinya swasembada pangan. Sehingga mengenai masalah pangan tidak akan mengalami permasalahan yang fatal, akan tetapi kenyataannya negara kita masih mengimpor pangan dari negara lain.

Ketidak berdayaan kaum petani untuk memejukan perekonomiannya  terbatasi oleh sarana dan prasarananya. Apalagi campur tangan dari pihak lain yang mengatur harga hasil panen menambah para petani memutar otak dengan keras. Seperti yang dilansir oleh harian Republika mengenai masyarakat menguasai lahan kelapa sawit yang dimiliki PTPN III. Masyarakat setempat menguasai tanah tersebut dengan alasan sebagai milik leluhurnya yang diserobot PTP sebagai pengelolo lahan tersebut[5].

Dalam cerpen Rendemen inilah M. Soim Anwar mencoba menggambarkan bagaimana ketidak berdayaan kaum petani tebu terhadap hasil panennya. Adanya KUD sebagai jembatan perekonomian mereka justru  menyulitkan mereka. Peraturan utang piutang  sebagai permodalan dijadikan lahan basah untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.

Sudah lama kita menjadi petani tebu. Hanya para pamong desa dan pengurus KUD yang semakin kaya. Para petani tebu tetap melatar kata suparlan kepada istrinya”.



Petani sendiri kebingunan mengatasi permasalahan mengenai hasil panen, harga sudah ditentukan dari KUD dengan pihak pabrik Gula. Keterbatasan modal dijadikan jalan kaum birokrat dan pengusaha sebagai alat memaksa para petani tebu untuk menuruti semua aturan yang mereka buat. Sehingga para petani tebu kualahan, dan mengeluh.



“Ya, tapi mereka adalah orang-orang pabrik gula. Petani tidak tahu . Aku yakin ada permainan di sini. Masak rendemen tebu dari tahun ketahun selalu turun. Padahal tebunya sangat baik . KUD ternyata hanya menerima saja, tak ada pembelaan. Bahkan petani selalu diharapkan untuk sabar dan bekerja terus.”



Ketidak beranian para petani untuk melawan arus merupakan faktor sebagai alasan para penguasa untuk menyiasatinya. Pengetahuan yang belum memadahi dan terbatasnya informasi mengenai pertanian masih dimiliki sebagian besar para petani, dengan demikian para petani mudah untuk dikelabui oleh para orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

“Sudah ! Tebu Pak Parlan sekarang sudah tak laku dijual. Salah sampean sendiri sih. Pokoknya sekarang saya tidak mau bicara soal tebu kering itu lagi. Sebagai Lurah dan sekaligus pembina KUD, saya harus meminta uang itu. Kalau tidak, Pak Parlan akan berurusan dengan polisi.”



Realita kehidupan para petani tebu sangat jelas digambarkan dalam Cerpen Rendemen karya M. Soim Anwar. Ketidak berdayaan para petani tebu terhadap penentuan nasib mereka sendiri sangat kesulitan . Sistem Koperasi Unid Desa (KUD) yang tidak berpihak kepada mereka dan para pamong desa serta para pengusaha pabrik gula membuat hidup mereka semakin parah. Ketidak berdayaan ini akibat dari kurangnya pengetahuan dan informasi mengenai dunia pertanian terutama tentang pengelolaannya.



*******





[1] Tugas mata kuliah  Sosiologi Sastra Program strata (S1) Pendidikan Bahasa dan Sastra STKIP PGRI Ponorogo yang diampu Drs. Kasnadi, M.Pd
[2] Mahasiswa PBSI Reguler A
[3] Luxemburg, Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia (1986) hal.23
4 Lihat Rene Wellek & Austin Warren, Teori Kesustraan, (penerjemah: Meilani Budianti), Gramedia, hal 109

[5] Lebih jelasnya mengenai sengketa lahan, lihat Republika ,29 April 2000


KAJIAN CERPEN

BERBASIS SOSIOLOGI SASTRA



POTRET KEHIDUPAN PEDESAAN DAN PERKOTAAN DALAM CERPEN JAKARTA KARYA TOTILAWATI TJITRAWASITA[1]



Oleh: Erwin Purwanto[2]

           PBSI 2007 A



Realita sosial dalam pandangan sosiologi sastra merupakan sebab musabab lahirnya sebuah karya sastra (cerpen). Sastra dapat dipandang sebagai suatu gejala sosial. Sastra yang ditulis pada suatu kurun waktu tertentu langsung berkaitan dengan norna-norma dan adat masa tersebut. Pengarang mengubah karyanya selaku seorang warga masyarakat dan menyapa pembaca yang sama-sama dengannya merupakan warga masyarakat tersebut[3].

Sastra menyajikan kehidupan dan kehidupan sebagian besar terdiri dari kenyatan social, walaupun karya sastra meniru alam dan dunia subjektif manusia [4].

Cerpen Jakarta karya Totilawati Tjitrawasita menyuguhkan sebuah kultur masyarakat pedesaan dan perkotaan yang mempunyai sekat sangat jauh. Masyarakat pedesaan yang identik dengan kehidupan tradisional akan kental nilai budayanya. Kebiasaan yang menyatu dengan alam serta kepedulian terhadap nilai-nilai moral. Sikap saling tolong-menolong dan saling membantu merupakan cirikas masyarakat pedesaan.

Selain menyuguhkan kehidupan pedesaan cerpen tersebut menggambarkan masyarakat perkotaan  yang penuh dengan kemodernisasinya dan kehidupan yang seba mewah. Kesibukan serta padatnya jadwal rutinitas membuat trasisi gotong royong semakin pudar.

Dalam cerpen tersebut kehidupan pedesaan yang masih melekat dengan alam sekitar serta kepedulian terhadap makhluk hidup disekitarnya. Kehidupan anak-anak yang sering membatu orang tuanya di tegal maupun di sawah. Anak-anak sering mencari rumput untuk pakan ternak, kegiatan seperti itu merupakan rutinitas sehari-hari. Kesibukan tersebut sirna ketika anak-anak asyik bermain dengan hewan prliharaannya.  sehingga seakan-akan para pembaca masuk dalam kehidupan perdesaan. tergambarkan dalam kutipan berikuit:

Terkenang masa kecilnya, bercanda diatas punggung kerbau 

Kebiasaan masyarakat pedesaan yang masih menggunakan alat-alat atau benda-benda tradisional yang dalam kehidupan perkotaan sudah ditinggalkan bahkan dihilangkan. Pemakaina alat-alat tradisional yang masih dipakai, walupun dalam bepergian jaun masih dibawa. Masyarakat pedesaan bagi yang merokok pasti membawa kotak tempat untuk menyimpan rokok, kebiasan tersebut sudah melekat dan merokok mermpunyai nilai kebanggan tersendiri.

Ditepuk-tepunya debu yang melekat dicelananya, lantas diambilnya slepi dari sakunya

Keunikan dan keragaman masyarakat pedesaan dalam cerpen tersebut tidak hanya dari kedekatannya dengan alam atau pemakaian alat-alat yang mana nama-namanya terdengar masyarakat perkotaan  yang aneh. Dalam segi pemakain bahasa yang masih kental dengan bahasa kedaerahan serta logat yang tepat dengan bahasa Jawa tertur jelas dan gambling. Hal tersebut membuktikan bahwa Totilawati Tjitrawasita merupakan orang asli Jawa.

Kakang, simbok, dan dendhukku Tinah?

Selain menggambaran kan kehidupan pedesaan cerpaen karya Totilawati Tjitrawasita juga menyuguhkan kehidupan perkotaan yang penuh dengan kesibukan  menjadikan antar warga lingkungan jarang mengenal yang jauh dibanding dengan kibiasaan masyarakat pedesaan. Kesibukan masing-masing membuat mereka lupa dengan asal-usulnya. Kebiasan para penjabat untuk bertemu dengannya harus mengantri dan mendaftar, walaupun yang bertamu tersebut keluarganya. Bagi masyarakat pedesaan hal tersebut kebanyakan diperlakukab bagi para warga yang ingin berobat kepada salah satu dokter.

Ketika penjaga menyodorkan buku tamu, hatinya tersentil. Alangkah anehnya, mengunjungi adik sendiri harus mendaftar, seingatnya dia bukan dokter. 

Masyarakat perkotaan yang terdiri dari berbagai latarbelakang yang berbeda baik dari suku maupun agamanya.  Masyarakat yang majemuk dituntu berpacu dengan waktu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kebiasaan para orang-orang kaya  yang bagi masyarakat pedesaan jarang terpikirkan, sebab masyarakat pedesaan untuk makan sehari-hari saja susah apalagi meniru gaya para konglemerat. Kehidupan yang bebas tidak lagi terikat norma-norma maupun agama merupakan hal yang sudah biasa dilakukan demi mencari kepuasan batin. Dunia malam Perkotaan yang dihiasi keindahan lampu jalanan yang serba berkelap-kelip. Mobil-mobil berjalan cepat secepat kilat. Kemegahan bangunan yang sudah merata dan bertingkat.  Duibangunnya tempat hiburan yang merupakan tempat para orang kaya menghabiskan uang dan melampiaskan kelelahannya.  

Nigh clupb, Pak, pusat kehidupan malam di kota ini. Tempat orang-orang kaya membuang duwitnya. Lampunya lima watt, remang-remang, perempuan cantik, minuman keras, tari telanjang dan musik gila-gilaan

Kehidupan masyarakat pedesaan yang berbeda dengan kehidupan perkotaan sangat jelas digambarkan dalam Cerpen Jakarta karya Totilawati Tjitrawasita. Pergeseran masyarakat pedesaan yang berubah ke kehidupan perkotaan dipengariuhi oleh lingkungan sekitar dan tuntutan kerja. Peralihan kebiasan baik dari segi sikap maupun perkataan sangat dirasakan ketika saudara sedesa berkunjung ke kota. Kebingungan dan keanehan terselip dalam hatinya yang paling dalam.  Kehidupan perkotaan identing dengan kemodernisasi dan kehidupan pedesaan identik dengan kehidupan tradisional. Perbedaan tersebut terjadi akibat kemajuan teknologi seta pengetahuan yang tidak merata diseluruh nusantara.





*******









[1] Tugas mata kuliah Pengkajian Prosa Program strata (S1) Pendidikan Bahasa dan Sastra STKIP PGRI Ponorogo yang diampu Drs. Sugianto, M.Pd
[2] Mahasiswa PBSI Reguler A
[3] Luxemburg, Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia (1986) hal.23
4 Lihat Rene Wellek & Austin Warren, Teori Kesustraan, (penerjemah: Meilani Budianti), Gramedia, hal 109


Analisis Gaya Bahasa dalam cerpen Bawuk Karya Umar Kayam[1]



Oleh: Erwin Purwanto[2]





Hakikat karya sastra, termasuk didalamnya cerpen adalah intensifikasi bahasa sebagai alat keindahan. Cerpen menggunakan media bahasa sebagai sarana estetis terpentingnya. Bahasa yang dipergunakan pengarang bukanlah sekedar bahasa sehari-hari melainkan bhasa yang berciri estetis dan dapat mengungkapkan imaji, ekspresi jiwa, impresi, sikap, dan pesan tersembunyi dari pengarangnya.

Gaya bahasa Salah satu sarana dalam memujudkan citraan yang dilakukan pengaran dalam penyapaian sebuah karya sastra. Gaya bahasa karena itu, merupakan sarana strategis yang seringkali dipilih pengarang untuk mrngungkapkan pengalaman kejiwaan ke dalam karya fiksi. Peggayabahasaan, tidaklah memiliki makna harfiah melainkan pada makna yang ditambahkan, makna yang tersirat[3]. 

 Kekhasan yang terdapat dalam karya Umar Kayam antara lain(1) karakteristik kepengarangan yang dipengaruhi kepribadian “Jawa”nya (2) kekuatannya melukiskan peristiwa mengenai alam pedesaan yang sangat menawan; (3) penggunaan bahasa Jawa masih terlihat dalam karyanya; menggunakan bahasa yang lugas, sederhana, dan mudah dimengerti tanpa mengurangi bobot estetika;(4) aspek religius yang dipengaruhi oleh kehidupan keseharian yang bernafaskan islam; dan  (5) realisme yang tidak berpihak, baik mendukung maupun menentang karekter-karektenya[4].

Salah satu kekhasan dalam cerpen Bawuk karya Umar Kayam dalam cerpenya adalah faktor permaianan bahasa sebagai media estetika. Ungkapan-ungkapan kalimat yang susunnya memilik pencitraan tersendiri sebagaimana penggayabahasaan(majas). Majas dipergunakan pengarang untuk membangkitkan imajinasi pembaca atau pendengarnya. Berikut analisis kajian atas penggunaan gaya bahasa yang dipergunakan dalam cerpen Bawuk. 



Alegori

Alegori merupakan gaya bahasa yang menyatakan sesuatu hal dengan perlambang. Perlambangan dalam pengertian gaya bahasa ini adalah perlambangan dengan menggunakan perbandingan penuh[5]. Alegori yang digunakan Umar Kayam dalam pemilihan pengucapannya tampak dalam kutipan data berikut:

1)                           Disiplin dan efisiensi Bawuk bukanlah disiplin dan efisien  jam Westminster, tetapi kelincahan burung kepodang di pagi hari. Meloncat-loncat, berkicau-kicau, tetapi toh selalu tidak pernah gagal menyelesaikan tugas hidupnya mengumpulkan makanan buat anak-anaknya di sarang.(hal 227)

2)                           Kesukaan baginya adalah merupakan “bagian dari upacara” yang  mesti dia penuhi dalam fungsinya sebagai seorang  onder dan priyai yang terpandang. (hal 228)

3)                           Seorang penari telah mulai menarikan saru tarian gamyong. Gerakannya luwes, tangan-tangnnya yang melengkung seperti gendewa panah itu melentur-lentur dengan indahnya.

4)                           Makanan berlimpah-limpah seperti air mengalir, mbayu mili kata orang jawa.(hal 228)

Dua kutipan diatas menunjukan, bagaimana gaya bahasa perbandingan penuh dipergunakan pengarang. Sebuah ilustrasi perbandingan yang penuh, kedisiplinan, keefisien dan kelincahan Bawuk dengan sifat kegesitan seekor burung kepodang yang setiap hari menyelesaikan tugas-tuganya dengan senang hati. Demikian juga, seorang onder yang melakukan perintah sang bupati untuk menari dengan seorang penari ledek yang mana tidak disukainya dilakukan dengan penuh ketaan dan penghormatan sebagi rasa nyarat penghoratan. Dan juga, ilustrasi seorang penari yang anggun dengan kelenturan tangannya dan melengkung-lengkung penuh ekspresi jiwanya. Kelengkungannya sama halnya gendewa panah yang melengkung indah dan mudah untuk memanah. Selain itu, Hidangan yang melimpah ruah seaakan-akan membanjiri tempat acara. Berlimpah-ruahnya makanan sama halnya sungai mengalir yang tidak berhenti-henti.



Asosiasi

Sosiasi termasuk ke dalam gaya bahasa perbandingan. Asosiasi memperbandingkan sesuatu dengn keadaan lain yang sesuai dengan keadaan/gambaran dan sifatnya[6]. Asosiasi yang digunakan Umar Kayam dalam pemilihan pengucapannya tampak dalam kutipan data beriku:

5)                           “Paan! Ayo lekas ganti. Tapal kudanya. Masa  kuda onderan larinya pincang kaya anak kampong kudisan.(hal 231)

6)                           “Ayo, si manis disirami! Biasanya kokoknya nyaring, kali ini kok kaya tersumbat kodok tenggorokannya. Masa ayam onderan suaranya kaya bangau sawah. (hal 231)

Data (5) melukiskan sosok hewan kuda yang laringya tidak skencang kuda biasanya. Pengasosiasikan hewan kuda terhadap keadaan anak kampong yang kudisan berlari-lari dengan terbopoh-bopoh dengan menanggung malu penyakit kudisannya. Pada data (6) pelikisan kokok ayam yang tidak merdu dan eidak enak didengar, diasosiasikn suara burung bangau sawah yang jarang berkokok dan cenderung bersuara  pelan atau tidak nyaring senyaring ayam jantan.



Metafora

Gya bahasa ini merupakan kiasan seperti perbandingan pula, akan tetapi gaya ini tidak menggunakan kata pembanding seperti gaya bahasa yang lainnya[7]. Metafora yang digunakan Umar Kayam dalam pemilihan pengucapannya tampak dalam kutipan data beriku:

(7)                                              Nyonya Suryo melipat-lipai surat Bawuk yang pendek itu. Kenapakah pada senja itu, pada waktu dia mencoba mengenang anaknya yang bungsu itu justru masa kanak-kanaknya yang paling jelas terkenang.(hal 232)

 Pada data (7) Umar Kayam menyuguhkan ilustrasi  kepada pembaca, yang mana susana yang begitu terharu terselip pertanyaan tentang senja.Perbandingan yang membandingkan tentang  kekewatirannya kepada bawuk yang sedang dilanda masalah politik yang menyelimutinya.



Hiperbola

 Hiperbola  merupakan gaya bahasa yang dipakai untuk melukiskan sesuatu keadaan secara berlebihan daripada sesungguhnya [8]. Hiperbola yang digunakan Umar Kayam dalam pemilihan pengucapannya tampak dalam kutipan data beriku:

(8)                                              Tahu-tahi orang berlari-lari meneriakkan bahwa dukuh B telah diduduki oleh tentara. Tentara ternyata telah bergerak dengan gesit, segesit siluman.(hal 238)

(9)                                              Embun membasahi tubuh mereka yang letih yang telah sehari penuh mereka peras dengan habis-habisan dalam percobaan mereka yang gila melawan suatu tentara yang terlatih.(hal 239)

Pada data (8) penggambaran kekuatan tentara yang lincah dan gesit, dibandinggan kekesitan siluman yang lari secepat kilat. Demikian juga, (9)para penduduk desa dengan ekstra melawan kekuatan tentara yang mana telah menghbiskan keringat seperti memeras baju samapi kering.



Personifikasi

Personifikasi adalah gaya bahasa perbandingan yang membandingkan benda mati atau tidak bergerak seolah-olah bernyawa dan dapat berperilaku seperti manusia[9]. Personifikasi yang digunakan Umar Kayam dalam pemilihan pengucapannya tampak dalam kutipan data beriku:

(10)                                          Kepala-kepala kijang yang terpancang di kiri dan di kanan masih menunduk, keberatan memikul tanduk-tanduknya persis seperti sekian tahun yang lalu di setenan.(hal 243)

(11)                                          Tetapi karena waktu telah tidak terlalu bermurah hati di dalam memberi puluang kepadanya…(hal 246)

Pada data (10) majas persinifikasi diwujudkan kepala kijang yang seakan-akan bertingkah seperti manusia yang memikul beban penderitaan yang setiap saat bisa mengancam nyawanya, mengilustrasikan keadaan bawuk. Selain itu, (11)dalam majas ini Umar Kayam menyuguhkan gambaran waktu yang tidak memberikan kesempatan kepada manusia untuk berhenti dan berbalik arah. Waktu digambarkan sosok manusia yang kejam tidak brmurah ti dan terasa kejam bagi yang merasakannya.







Antitesis

Antitesis termasuk dalam gaya bahasa pertentangan. Antitesis sendiri merupakan jenis gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata secara berlawanan[10]. Antitesis yang digunakan Umar Kayam dalam pemilihan pengucapannya tampak dalam kutipan data beriku:

(12)                                          Alangkah muda dan tuanya anaknya itu. (hal 234)

(13)                                          Ayah-ibunya, penbantu-penbabtunya semua seisi rumah mesti mengetahuinya. (hal 226)

Pada data (12) penggunaan majas pertentangan antitesi  yaitu anata kata muda dan tua yang merupakan kta yang sling berlawanan. Demikian halnaya(13) penggunaan kata bapak ibu merupkan kata-kata yang bertentangan sehingga keeksttetonya akan terlihat.



Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa yang digunakan Umar Kayam  dalam cerpennya Bawuk sebagai berikut:(i) alegori, (ii) asosiasi, (iii) metafora, (iv) hiperbola, (v) personifikasi, dan (vi) antitesis.  

Gaya bahasa itu, dipergunakan secara intensif untuk menggambarkan bagaimana mengungkapkan penegasan, pertentangan, dan perbandingan dalam sebuah cerpen. Pemakaina gaya bahasa yang dipakai Umar Kayam sangat menarik dan mudah dicermati oleh para pembaca. Sehingga cerpen Yang berjudul Bawu ini mudah dicerna dan di pahami secara umum oleh para pembaca dan secara khusus penggemar karya sastra.













*******













[1] Tugas mata kuliah Pengkajian Prosa Program strata (S1) Pendidikan Bahasa dan Sastra STKIP PGRI Ponorogo yang diampu Drs. Sugianto, M.Pd
[2] Mahasiswa PBSI Reguler A 2007 Stkip PGRI Ponorogo.
[3] Sutejo, Stilistika,Yogyakarta:Pustaka Felicha:2010.hal 26
[4] Safijar, Sri Sumarah Kumpulan Cerpen Umar Kayam, Jakarta: 2005
[5] Sutejo, Stilistika,Yogyakarta:Pustaka Felicha:2010.hal 60
[6] Sutejo, Stilistika,Yogyakarta:Pustaka Felicha:2010.hal 28
[7] Sutejo, Stilistika,Yogyakarta:Pustaka Felicha:2010.hal 30
[8] Sutejo, Stilistika,Yogyakarta:Pustaka Felicha:2010.hal 29
[9] Sutejo, Stilistika,Yogyakarta:Pustaka Felicha:2010.hal 31
[10] Sutejo, Stilistika,Yogyakarta:Pustaka Felicha:2010.hal 28

Cinta Seorang Istri terhadap Suami Secara Tradisi Jawa dalam Puisi Isteri karya Darmanto Sujatman


Cinta Seorang  Istri terhadap Suami Secara Tradisi Jawa  dalam Puisi Isteri karya Darmanto Sujatman

Oleh: Erwin Purwanto

Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri lagi adalah kenyataannya bahwa seorang penyair/ seniman umunnya itu senantiasa dan niscaya hidup dalam ruang dan waktu tertentu. Di dalamnya ia pun senantiasa akan terlibat dengan beraneka ragam permasalahan. Dalam bentuknya yang paling nyata, ruang dan waktu tertentu itu adalah masyarakat atau sebuah kondisi sosial, tempat berbagai pranata nilai di dalamnya berinteraksi. Dalam konteks ini, sastra bukanlah sesuatu yang otonom, berdiri sendiri, melainkan sesuatu yang terikat erat dengan situasi dan kondisi lingkungan tempat karya itu dilahirkan[1]

Seorang penyair merupakn anggota masyarakat. Oleh sebab itu ia terikat dengan aturan sosial mayarakat yang berlaku. Sehingga karya sastra bisa dikatakan merupakn tiruan dari kenyataan sesuai pendapat Abram salah satunya mimetik yaitu karya sastra merupakan tiruan alam. Sastra dengan medium bahasa untuk membangun keestetisannya. Bahasa yang bersifat arbiter sesuai kesepakatan kelompok atau daerah tertentu.Karya sastra sangat berkaitan dengan sosial masyaraat, bahkan melekat didalamnya.

Perjalanan dalam karya sastra  persoalan percintaan tidak luput dari penyair. Setiap manusia pasti memiliki rasa ingin memiliki dan dimiliki, itulah cinta. Dalam masyarakat cinta memiliki berbagai ragam wajah, cinta itu kejam, cita itu pengorbanan, cinta itu indah, cinta itu berfikir. Dan sekian konsep cita dikenal masyrakat dan remaja kita[2]. Permasalahn cinta dalam masyarakat merupakan mepunyai tempat tersendiri. Kekuatan cinta akan merubah semua keadan yang tidak mugkin menjadi mungkin. Cinta begitu kuat, sebagai manusia biasa sering kalut di dalamnya. Keralaan dan pengorbanan merupakan unsur yang selalu mengikuti perjalanan cinta.

Demikian juga dalam kehidupan pasangan suami istri, mengharapan setiap pasangan hidup adalah perkawinan mereka dapat berjalan mulus sampai kaken-kaken dan ninen-ninen, seperti mimi lan mintuno (nasehat perkawinan setelah akad nikah orang Jawa). Kalau diartikan maka nasehat tersebut mengandung makna bahwa pernikahan itu diharapkan tidak terjadi perpisahan sampai tua, di ibaratkan seperti pasangan mimi mintuno, adalah hewan yang hidup di laut berpasangan sepanjang hidup, kalau mimi mati mintuno tetap setia hidup sendirian[3].

Permasalahn cinta dalam masyarakat mepunyai tempat tersendiri. Kekuatan cinta akan merubah semua keadaan yang tidak mugkin menjadi mungkin. Cinta begitu kuat, sebagai manusia biasa sering kalut di dalamnya. Keralaan dan pengorbanan merupakan unsur yang selalu mengikuti perjalanan cinta. Darmato Jatman di dalam puisinya yang berjudul Isteri mengilustrasikan sebagaimana kekuatan cinta seorang istri terhadap suaminya, serta pentingnya seorang istri bagi sang suami.

Darmato Jatman sendiri merupakan pakar pendidikan, beliau sebagai dosen Psikologi di Universitas Diponegoro Semarang. Karya sastra sudah banyak, salah satunya puisi yang berjudul Isteri. Karyanya banyak menggunakan berbagai macam unsur budaya atau mencampur adukan bahasa. Kedwibahasaan selalu menghiyasi karya-karyanya.



ISTERI



Isteri sangat penting untuk kita

Menyapu pekarangan

Memasak di dapur

Mencuci di Sumur

Mengirim rantang ke sawah

Dan mengeroki kita kalau kita masuk angin

Ya. Isteri sangat penting untuk kita



Ia sisihan kita

            Kalau kita pergi kondangan

Ia tetimbangan kita

            Kalau kita mau jual palawija

Ia teman belakang kita

            Kalau kita lapar dan mau makan

Ia segaraning nyawa kita 

            Kalau kita

Ia sakit kita!

Ah. Lihatlah ia menjadi sama penting dengan kerbau, luku, sawah dan pohon kelapa.

Ia kita cangkul malam hari dan tak pernah ngeluh walaupun capek. Ia selalu rapih menyimpan benih yang kita tanamkan dengan rasa syukur; tau terima kasih dan meninggikanharkat kita sebagai laki-laki. Ia selalu memelihara anak-anak kita dengan sungguh-sungguh seperti kita memelihara ayam, itik, kambing atau jagung.

                  Ah. Ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika kita mulai melupakannya:



Seperti lidah ia di mulut kita

tak terasa

Seperti jantung di dadakita

tak terasa



Ya. Ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika mulai melupakannya.



Jadi waspadalah!

Tetep, madep, mantep

Gemati, nastiti, ngati-ati

Supaya kita mandiri, perkasa dan pintar ngatur hidup

Tak tergantung tengkulak, apak dukuh, bekel atau lurah



Seperti Subbadra bagi Aruna

Makin jelita ia di antara maru-marunya;

Seperti Arimbi bagi Bima

Jadilah ia jelita ketika melahirkan jabangtetuka;

Seperti Sawitri bagi Setyawan

Ia memelihara nyawa kita dari malapetaka.



Ah. Ah. Ah.

Alangkah pentingnya isteri ketika kita mulai melupakannya.



Hormatilah isterimu

Seperti kau menghormati Dewi Sri

Sumber hidupmu

Makanlah

Karena memang demikianlah suratannya!

      Towikromo



Kecintan seorang isteri secara budaya jawa yang turun temurun harus pandai melayani sang suaminya yang istilahnya harus pandai macak, masak, dan manak agar suaminya bisa bertahan di rumah.

Isteri dalam  puisi Isteri karya Darmantao Jatman melambangkan sosok permpuan yang sangat diperlukan sang suami. Setiap saat melayani dengan penuh  cinta dan kerelaan dirinya. Kepandaian seorang isteri yang mengatur rumah tangga yang didasari kecintaannya sehingga tidak merasa lelah dalam menjalankannya.// Isteri sangat penting untuk kita/ Menyapu pekarangan / Memasak di dapur/ Mencuci di Sumur/ Mengirim rantang ke sawah / Dan mengeroki kita kalau kita masuk angin//

Belahan jiwa seorang suami adalah isterinya. Suami isteri merupakan pasangan hidup yang saling mengisi kekeurangn dan kelebihannya masing-masing. Dalam rumah tangga harus adanya keseimbangan di antara mereaka agar di dalam mengarungi bahtera rumah tangga tidak mengalami hambatan. Isteri sebagai pendamping hidup harus tau diri parannya serta apa-apa yang harus dilakukannya, sebaliknya sebagi suami harus tau posisi isterinya sehingga sang suami tidak merasa menang sendiri. //Ia sisihan kita/Kalau kita pergi kondangan/Ia tetimbangan /Kalau kita mau jual palawija/Ia teman belakang kita /Kalau kita lapar dan mau maka/Ia segaraning nyawa kita/ Kalau kita /Ia sakit kita! Kerelaan yang didasari kasih sayang yang kuat membuat perjalanan dalam menghadapi problem rumah tangga akan mudah diatasi.

Rumah tangga yag harmonis bisa terwujud apabila suami isteri bisa memenuhi hak dan kewajiban masing-masing.  Suami sebagai imam dalm rumah tangga dan isteri sebagai makmumnya, dengan demikian suami sebagai panutan dalam rumah tangga harus bisa membuat iklim rumah tangga yang sakinah mawadah warohmah. Isteri sebagai makmum harus mengerti bagai mana melakukan tugasnya agar terwujud kebahagiaan rumah tangga baik secara batin maupun lahir. Hal ini sesuai kutipan dalam puisi Isteri  yang mana dengan landasan rasa cinta yag luar biasa melayani sang suami tanpa rasa lelah.//Ia kita cangkul malam hari dan tak pernah ngeluh walau cape/Ia selalu rapih menyimpan benih yang kita tanamkan dengan rasa syukur/ Tahu terima kasih dan meninggikan harkat kita sebagai laki-laki/ Ia selalu memelihara anak-anak kita dengan bersungguh-sungguh//

Perjalanan kehidupan rumah tangga tak seindah kita bayangkan, ujian maupun cobaan akan ditemuinya setiap saat. Ujian dan cobaan tersebut kadang tak terasakan bahkan tak menyadarinya. Di sinilah kadang suami isteri megalami guncanagn dan saling menyalahkan serta membicarakn kekurangn masing-masing yang ujung-ujungnya membuat keduanya merasa tersinggung, akhirnya pertengkaran akan meledak. Isteri sebagai wanita yang lembut perasaanya dan sang suami sebagai laki-laki yang mempunya watak keras[4] akan membuat mereka saling menjatuhkan, sebetulnya  kekurangn dan kelebihan tersebut bisa membuat saling mengisi sehingga problem yang dihadapi akan teratasi.//Seperti lidah ia di mulut kita tak terasa/Seperti jantung ia didada kita tak tereasa// Kelembutan seorang isteri kadang membuat sang suami tidak merasa apa yang telah dilakukan sang isteri kepadanya. Kepekaan seorang suami harus dipertajam sebab istri ingin di puja dan dihargai.

 Isteri merupakan titipan atau amanh dari Sang maha kuasa. Kita sebagai suami  harus bisa membinanya dan mengarahkannya kearah yang lebih baik, demikian salah satu tugas suami[5]. Apabila isteri sakit atau terpaksa tidak bisa melayani suami, suami harus bisa memerankan peran isteri, tidak sebalinya selalu menuntut dalam keadaan apapun. //Jadi  waspadalah/Tetep, madep, mantep/Gemati, nastiti, ngati-ati/ Supaya kita mandiri, perkasa dan pintar ngatur hidup/Tak tergantung tengkulak, pak dukuh, bekel atau lurah//

Pengorbanan seorang isteri demi sang suami d an anaknyasangat luar biasa, nyawapun dijadikan taruhannya. Didalam perjalan hidup seorang isteri selalu mendukung dan mendoakan suaminya agar selamat. Kadang isteri tak menampakan pengorbanannya, kadang dipandang remeh akan tetapi kekuatan do`a seorang isteri sangat luar biasa bisa meruabah hal-hal yang dilakukan suami dari yang munngkin menjadi mingkin untuk menafkahi keluarganya.

Demikian juga, dalam merawat anaknya baik masih dalam kandungan sampai lahir dan membesarkannya. Kecintaan terhadap suami masih depertahannkannya walaupun adanya sosok anak dalam keluarga. Wujudnya adalah mendidik dan mengarahkan anak kearah yang baik menjadi anak yang soleh dan solekhah. .//Seperti Subadra bagi Arjuna/makin jelita ia di antara maru-marunya/Seoerti Arimbi bagi Bima/jadilah ia jelita ketika melahirkan jabang tetuka/Seperti Sawitri Bagi Setyawan/ia memelihara nyawa kita dari malapetaka// Kepandaian isteri membagi waktunya untuk anak dan suaminya, demikian itu merupakan wujud kecintaan kepada suami.

Wanita dalam rumah tangga sangat besar dan mulia tugasnya. Mengurusi halaman depan sampai halaman  belakang. Tidak mengenal lelah maupun berkeluh kesah.//  Hormatilah isterimu/Seperti kau menghormati Dewi Sri/Sumber hidupmu/Makanlah/Karena memang demikianlah suratannya!//Perempuan yang luarbiasa dan berharga untuk kebahagiaan dunia akherat.

Isteri yag digambarkan oleh Darmanto Jatman merupakan sesuatu yang mahal serta sangat berharga bagi laki-laki atau suami. Sehingga puisi tersebut mampu membawa dan menggiringi pembaca untuk mengarungi perjalanan hidup yang memotret kecintaan isteri terhadap suami dalam tradisi jawa.  Cinta yang mengikat akan membawa suami isteri kearah kebahagiaan yang luar biasa. Isteri, yang sejatinya dalam sejarah islam merupakan sebagian dari tulang rusuknya laki-laki, tidak salah kalau dalam jawa Isteri/garwo  diartikan sigaring nyowo atau separunya nyawa laki-laki.



00000000









DAFTRAR PUSTAKA





Fakih.1999. Analisis Gender. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Jobrohim. 2002. Metdologi Penelitian Sastra. Yogyakarta:Hanindita

Sutejo,Kasnadi. 2009. Kajian Puisi Teori dan Aplikasinya. Yoyakarta: Pustaka Filicha

Yasin. Rahasia Ketajaman Mata Hati. Surabaya: Terbit Terang

Zainudinn. Kehidupan Suami Istri Lansia & Faktor Budaya. budhidharma.depsos.go.id





[1] Jobrohim.Metdologi Penelitian Sastra. Yogyakarta:Hanindita.2002.hal.157
[2] Sutejo,Kasnadi.Kajian Puisi Teori dan Aplikasinya. Yoyakarta:Pustaka Filivha.2009.hal.129
[3] Zainudinn, Kehidupan Suami Istri Lansia & Faktor Budaya, budhidharma.depsos.go.id
[4] Sedangkan konsep gender, yakni suatu sifat yag melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yag dikontruksi secara sosial maupun kultur. Misalnya, bahwa perempuan itu dikenal lemah lembut, cantik, emosional, atau keibuan. Sementara laki-laki dianggap: kuat, rasional, jantan, dan perkasa. Ciri dari sifat itu merupakan sifat-sifat yang dapat dipertukarkan. Artinya ada laki-laki yang emosional, lemah lembut, keibuan, sementara juga ada perempuan yang kuat, rasional, dan perkasa(Fakih. Analisis Gender.Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999)
[5] Sikap seorang suami sebagai haknya  isteri misalnya, dia tidak terlalu bercumbu rayu, tidak mengikuti hawa  nafsunya yang sampai merusak budi pekerti isteri, sehingga kewibawaan lelaki hancur dihadapan isteri. Namun semuanya harus dijaga sewajar-wajarnya/tidak berlebih-lebihan (Yasin. dalam terjemahan kitab Mukkasyafatul Qulub)

ayat-ayat Tuhan


Makan minum adalah rutinitas sehari-hari. Bukan makan nasi atau minum air saja, akan tetapi memakan segala lini kehidupan yang telah terjadi, dari bangun samapai tidur kembali. Banyak hal yang bisa dimakan, misalnya peristiwa yang dijalani setiap saat bahkan setiap detikpun, semua memiliki dan mempunyai pesan-pesan yang harus dipecahkan. Kita tanpa memecah apa yang terkandung di dalamnya, kita justru akan merugi besar. Ya…. Memang sepintas tidak ada apa-apa, akan tetapi apabila kita mau menggali lebih dalam lagi dan mau membuka cakra wala pemikiran kita, baik secara ilmu pengetahuan atupun ke agamaan pasti ka mengerti semua apa yang telah kita lewati.

 Dunia memang membingungkan, kadang mendukung kita kadang kali menjrumuskan kita pada kenistaan. Kenikmatan yang sudah kita dapat, justru kita merasa kurang serta selalu serba kurang. Peristiwa yang terjadi atau permasalahan yang kita jalani pasti memiliki dan mempunyai tujuan, siapa yang mengadakannya???, pastilah Tuhan yang Maha Bijaksana. Dengan teguran dan sapa-Nya yang berupa percikan peristiwa setiap detik, tak terasa kita dibimbing dan diarahkan kearah yang benar. Merasa atau tidak, menyakini atau tidak tergantung hati kita. Kekerasan hatilah yang mmenbuat kita tak bisa membaca ayat-ayat Tuhan yang luar biasa yang setiap detik selalu menyertai hidup kita.

Dari alam kita bisa mengetahui betapa alam mempunyai nialai-nilai pembelajaran yang sangat besar sekali. Miasalnya, ketika melihat pohon yang mana ketika malam merundukkan daun dan rantingnya ke bawah, ini mensyaratkan kita ketika saatnya beribadah kepada Tuhan, yang harus dilaksanakan. Pada waktu siang Pohonan berdidri kekar, daun-daun segar antusias memeasak makannanya untuk bertahan hidup, demikian juga manusia harus bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk bekerja sungguh-sungguh untuk mendapatkan atau bisa makan untuk bertahan hidup.

Kita diberi akal dan pikiran oleh Tuhan Ynga Maha Kuasa dan Bijaksana, kenapa kita tidak menggunakannya. Apakah kita duduk-duduk nyaNtai bisa bertahan hidup, Kan Gak Toooo….????  Apapu bisa menjadi sumber rizki, tinggal kita mau GGGGAAKKKK uNTUk memanfaftkan apa yang ada di dekitar kita. Ya … kita harus bersungguh-sungguh untuk bertahan hidup apa lagi merUbah nasib yang buruk menjadi baik itu semua butuh proses. Dan juga ber do’a kepada Yang Maha Kuasalah. Dialah yang mengatur segala gerak-gerik di dunia dan di langit, Dialah yangmngusainya, kita sebagai makhluk yang amat kecil kita tak kuasa melawa-Nya. Kita harus tunduk dan patu kepada Perintah dan laranan-Nya. Seering berjalannya waktu kita harus mampu memupul keimanan kita, pandai membaca ayat-ayat Tuhan

Puisi

"Awan" Oleh:  Kang Win Awan mulai menylimuti matahari Cahaya panas kian menghilang Bak sirna dalam ke Hirupikukan Tak ada awan, t...