Wednesday, 28 March 2012


KAJIAN CERPEN

BERBASIS SOSIOLOGI SASTRA



POTRET KEHIDUPAN PEDESAAN DAN PERKOTAAN DALAM CERPEN JAKARTA KARYA TOTILAWATI TJITRAWASITA[1]



Oleh: Erwin Purwanto[2]

           PBSI 2007 A



Realita sosial dalam pandangan sosiologi sastra merupakan sebab musabab lahirnya sebuah karya sastra (cerpen). Sastra dapat dipandang sebagai suatu gejala sosial. Sastra yang ditulis pada suatu kurun waktu tertentu langsung berkaitan dengan norna-norma dan adat masa tersebut. Pengarang mengubah karyanya selaku seorang warga masyarakat dan menyapa pembaca yang sama-sama dengannya merupakan warga masyarakat tersebut[3].

Sastra menyajikan kehidupan dan kehidupan sebagian besar terdiri dari kenyatan social, walaupun karya sastra meniru alam dan dunia subjektif manusia [4].

Cerpen Jakarta karya Totilawati Tjitrawasita menyuguhkan sebuah kultur masyarakat pedesaan dan perkotaan yang mempunyai sekat sangat jauh. Masyarakat pedesaan yang identik dengan kehidupan tradisional akan kental nilai budayanya. Kebiasaan yang menyatu dengan alam serta kepedulian terhadap nilai-nilai moral. Sikap saling tolong-menolong dan saling membantu merupakan cirikas masyarakat pedesaan.

Selain menyuguhkan kehidupan pedesaan cerpen tersebut menggambarkan masyarakat perkotaan  yang penuh dengan kemodernisasinya dan kehidupan yang seba mewah. Kesibukan serta padatnya jadwal rutinitas membuat trasisi gotong royong semakin pudar.

Dalam cerpen tersebut kehidupan pedesaan yang masih melekat dengan alam sekitar serta kepedulian terhadap makhluk hidup disekitarnya. Kehidupan anak-anak yang sering membatu orang tuanya di tegal maupun di sawah. Anak-anak sering mencari rumput untuk pakan ternak, kegiatan seperti itu merupakan rutinitas sehari-hari. Kesibukan tersebut sirna ketika anak-anak asyik bermain dengan hewan prliharaannya.  sehingga seakan-akan para pembaca masuk dalam kehidupan perdesaan. tergambarkan dalam kutipan berikuit:

Terkenang masa kecilnya, bercanda diatas punggung kerbau 

Kebiasaan masyarakat pedesaan yang masih menggunakan alat-alat atau benda-benda tradisional yang dalam kehidupan perkotaan sudah ditinggalkan bahkan dihilangkan. Pemakaina alat-alat tradisional yang masih dipakai, walupun dalam bepergian jaun masih dibawa. Masyarakat pedesaan bagi yang merokok pasti membawa kotak tempat untuk menyimpan rokok, kebiasan tersebut sudah melekat dan merokok mermpunyai nilai kebanggan tersendiri.

Ditepuk-tepunya debu yang melekat dicelananya, lantas diambilnya slepi dari sakunya

Keunikan dan keragaman masyarakat pedesaan dalam cerpen tersebut tidak hanya dari kedekatannya dengan alam atau pemakaian alat-alat yang mana nama-namanya terdengar masyarakat perkotaan  yang aneh. Dalam segi pemakain bahasa yang masih kental dengan bahasa kedaerahan serta logat yang tepat dengan bahasa Jawa tertur jelas dan gambling. Hal tersebut membuktikan bahwa Totilawati Tjitrawasita merupakan orang asli Jawa.

Kakang, simbok, dan dendhukku Tinah?

Selain menggambaran kan kehidupan pedesaan cerpaen karya Totilawati Tjitrawasita juga menyuguhkan kehidupan perkotaan yang penuh dengan kesibukan  menjadikan antar warga lingkungan jarang mengenal yang jauh dibanding dengan kibiasaan masyarakat pedesaan. Kesibukan masing-masing membuat mereka lupa dengan asal-usulnya. Kebiasan para penjabat untuk bertemu dengannya harus mengantri dan mendaftar, walaupun yang bertamu tersebut keluarganya. Bagi masyarakat pedesaan hal tersebut kebanyakan diperlakukab bagi para warga yang ingin berobat kepada salah satu dokter.

Ketika penjaga menyodorkan buku tamu, hatinya tersentil. Alangkah anehnya, mengunjungi adik sendiri harus mendaftar, seingatnya dia bukan dokter. 

Masyarakat perkotaan yang terdiri dari berbagai latarbelakang yang berbeda baik dari suku maupun agamanya.  Masyarakat yang majemuk dituntu berpacu dengan waktu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kebiasaan para orang-orang kaya  yang bagi masyarakat pedesaan jarang terpikirkan, sebab masyarakat pedesaan untuk makan sehari-hari saja susah apalagi meniru gaya para konglemerat. Kehidupan yang bebas tidak lagi terikat norma-norma maupun agama merupakan hal yang sudah biasa dilakukan demi mencari kepuasan batin. Dunia malam Perkotaan yang dihiasi keindahan lampu jalanan yang serba berkelap-kelip. Mobil-mobil berjalan cepat secepat kilat. Kemegahan bangunan yang sudah merata dan bertingkat.  Duibangunnya tempat hiburan yang merupakan tempat para orang kaya menghabiskan uang dan melampiaskan kelelahannya.  

Nigh clupb, Pak, pusat kehidupan malam di kota ini. Tempat orang-orang kaya membuang duwitnya. Lampunya lima watt, remang-remang, perempuan cantik, minuman keras, tari telanjang dan musik gila-gilaan

Kehidupan masyarakat pedesaan yang berbeda dengan kehidupan perkotaan sangat jelas digambarkan dalam Cerpen Jakarta karya Totilawati Tjitrawasita. Pergeseran masyarakat pedesaan yang berubah ke kehidupan perkotaan dipengariuhi oleh lingkungan sekitar dan tuntutan kerja. Peralihan kebiasan baik dari segi sikap maupun perkataan sangat dirasakan ketika saudara sedesa berkunjung ke kota. Kebingungan dan keanehan terselip dalam hatinya yang paling dalam.  Kehidupan perkotaan identing dengan kemodernisasi dan kehidupan pedesaan identik dengan kehidupan tradisional. Perbedaan tersebut terjadi akibat kemajuan teknologi seta pengetahuan yang tidak merata diseluruh nusantara.





*******









[1] Tugas mata kuliah Pengkajian Prosa Program strata (S1) Pendidikan Bahasa dan Sastra STKIP PGRI Ponorogo yang diampu Drs. Sugianto, M.Pd
[2] Mahasiswa PBSI Reguler A
[3] Luxemburg, Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia (1986) hal.23
4 Lihat Rene Wellek & Austin Warren, Teori Kesustraan, (penerjemah: Meilani Budianti), Gramedia, hal 109


Analisis Gaya Bahasa dalam cerpen Bawuk Karya Umar Kayam[1]



Oleh: Erwin Purwanto[2]





Hakikat karya sastra, termasuk didalamnya cerpen adalah intensifikasi bahasa sebagai alat keindahan. Cerpen menggunakan media bahasa sebagai sarana estetis terpentingnya. Bahasa yang dipergunakan pengarang bukanlah sekedar bahasa sehari-hari melainkan bhasa yang berciri estetis dan dapat mengungkapkan imaji, ekspresi jiwa, impresi, sikap, dan pesan tersembunyi dari pengarangnya.

Gaya bahasa Salah satu sarana dalam memujudkan citraan yang dilakukan pengaran dalam penyapaian sebuah karya sastra. Gaya bahasa karena itu, merupakan sarana strategis yang seringkali dipilih pengarang untuk mrngungkapkan pengalaman kejiwaan ke dalam karya fiksi. Peggayabahasaan, tidaklah memiliki makna harfiah melainkan pada makna yang ditambahkan, makna yang tersirat[3]. 

 Kekhasan yang terdapat dalam karya Umar Kayam antara lain(1) karakteristik kepengarangan yang dipengaruhi kepribadian “Jawa”nya (2) kekuatannya melukiskan peristiwa mengenai alam pedesaan yang sangat menawan; (3) penggunaan bahasa Jawa masih terlihat dalam karyanya; menggunakan bahasa yang lugas, sederhana, dan mudah dimengerti tanpa mengurangi bobot estetika;(4) aspek religius yang dipengaruhi oleh kehidupan keseharian yang bernafaskan islam; dan  (5) realisme yang tidak berpihak, baik mendukung maupun menentang karekter-karektenya[4].

Salah satu kekhasan dalam cerpen Bawuk karya Umar Kayam dalam cerpenya adalah faktor permaianan bahasa sebagai media estetika. Ungkapan-ungkapan kalimat yang susunnya memilik pencitraan tersendiri sebagaimana penggayabahasaan(majas). Majas dipergunakan pengarang untuk membangkitkan imajinasi pembaca atau pendengarnya. Berikut analisis kajian atas penggunaan gaya bahasa yang dipergunakan dalam cerpen Bawuk. 



Alegori

Alegori merupakan gaya bahasa yang menyatakan sesuatu hal dengan perlambang. Perlambangan dalam pengertian gaya bahasa ini adalah perlambangan dengan menggunakan perbandingan penuh[5]. Alegori yang digunakan Umar Kayam dalam pemilihan pengucapannya tampak dalam kutipan data berikut:

1)                           Disiplin dan efisiensi Bawuk bukanlah disiplin dan efisien  jam Westminster, tetapi kelincahan burung kepodang di pagi hari. Meloncat-loncat, berkicau-kicau, tetapi toh selalu tidak pernah gagal menyelesaikan tugas hidupnya mengumpulkan makanan buat anak-anaknya di sarang.(hal 227)

2)                           Kesukaan baginya adalah merupakan “bagian dari upacara” yang  mesti dia penuhi dalam fungsinya sebagai seorang  onder dan priyai yang terpandang. (hal 228)

3)                           Seorang penari telah mulai menarikan saru tarian gamyong. Gerakannya luwes, tangan-tangnnya yang melengkung seperti gendewa panah itu melentur-lentur dengan indahnya.

4)                           Makanan berlimpah-limpah seperti air mengalir, mbayu mili kata orang jawa.(hal 228)

Dua kutipan diatas menunjukan, bagaimana gaya bahasa perbandingan penuh dipergunakan pengarang. Sebuah ilustrasi perbandingan yang penuh, kedisiplinan, keefisien dan kelincahan Bawuk dengan sifat kegesitan seekor burung kepodang yang setiap hari menyelesaikan tugas-tuganya dengan senang hati. Demikian juga, seorang onder yang melakukan perintah sang bupati untuk menari dengan seorang penari ledek yang mana tidak disukainya dilakukan dengan penuh ketaan dan penghormatan sebagi rasa nyarat penghoratan. Dan juga, ilustrasi seorang penari yang anggun dengan kelenturan tangannya dan melengkung-lengkung penuh ekspresi jiwanya. Kelengkungannya sama halnya gendewa panah yang melengkung indah dan mudah untuk memanah. Selain itu, Hidangan yang melimpah ruah seaakan-akan membanjiri tempat acara. Berlimpah-ruahnya makanan sama halnya sungai mengalir yang tidak berhenti-henti.



Asosiasi

Sosiasi termasuk ke dalam gaya bahasa perbandingan. Asosiasi memperbandingkan sesuatu dengn keadaan lain yang sesuai dengan keadaan/gambaran dan sifatnya[6]. Asosiasi yang digunakan Umar Kayam dalam pemilihan pengucapannya tampak dalam kutipan data beriku:

5)                           “Paan! Ayo lekas ganti. Tapal kudanya. Masa  kuda onderan larinya pincang kaya anak kampong kudisan.(hal 231)

6)                           “Ayo, si manis disirami! Biasanya kokoknya nyaring, kali ini kok kaya tersumbat kodok tenggorokannya. Masa ayam onderan suaranya kaya bangau sawah. (hal 231)

Data (5) melukiskan sosok hewan kuda yang laringya tidak skencang kuda biasanya. Pengasosiasikan hewan kuda terhadap keadaan anak kampong yang kudisan berlari-lari dengan terbopoh-bopoh dengan menanggung malu penyakit kudisannya. Pada data (6) pelikisan kokok ayam yang tidak merdu dan eidak enak didengar, diasosiasikn suara burung bangau sawah yang jarang berkokok dan cenderung bersuara  pelan atau tidak nyaring senyaring ayam jantan.



Metafora

Gya bahasa ini merupakan kiasan seperti perbandingan pula, akan tetapi gaya ini tidak menggunakan kata pembanding seperti gaya bahasa yang lainnya[7]. Metafora yang digunakan Umar Kayam dalam pemilihan pengucapannya tampak dalam kutipan data beriku:

(7)                                              Nyonya Suryo melipat-lipai surat Bawuk yang pendek itu. Kenapakah pada senja itu, pada waktu dia mencoba mengenang anaknya yang bungsu itu justru masa kanak-kanaknya yang paling jelas terkenang.(hal 232)

 Pada data (7) Umar Kayam menyuguhkan ilustrasi  kepada pembaca, yang mana susana yang begitu terharu terselip pertanyaan tentang senja.Perbandingan yang membandingkan tentang  kekewatirannya kepada bawuk yang sedang dilanda masalah politik yang menyelimutinya.



Hiperbola

 Hiperbola  merupakan gaya bahasa yang dipakai untuk melukiskan sesuatu keadaan secara berlebihan daripada sesungguhnya [8]. Hiperbola yang digunakan Umar Kayam dalam pemilihan pengucapannya tampak dalam kutipan data beriku:

(8)                                              Tahu-tahi orang berlari-lari meneriakkan bahwa dukuh B telah diduduki oleh tentara. Tentara ternyata telah bergerak dengan gesit, segesit siluman.(hal 238)

(9)                                              Embun membasahi tubuh mereka yang letih yang telah sehari penuh mereka peras dengan habis-habisan dalam percobaan mereka yang gila melawan suatu tentara yang terlatih.(hal 239)

Pada data (8) penggambaran kekuatan tentara yang lincah dan gesit, dibandinggan kekesitan siluman yang lari secepat kilat. Demikian juga, (9)para penduduk desa dengan ekstra melawan kekuatan tentara yang mana telah menghbiskan keringat seperti memeras baju samapi kering.



Personifikasi

Personifikasi adalah gaya bahasa perbandingan yang membandingkan benda mati atau tidak bergerak seolah-olah bernyawa dan dapat berperilaku seperti manusia[9]. Personifikasi yang digunakan Umar Kayam dalam pemilihan pengucapannya tampak dalam kutipan data beriku:

(10)                                          Kepala-kepala kijang yang terpancang di kiri dan di kanan masih menunduk, keberatan memikul tanduk-tanduknya persis seperti sekian tahun yang lalu di setenan.(hal 243)

(11)                                          Tetapi karena waktu telah tidak terlalu bermurah hati di dalam memberi puluang kepadanya…(hal 246)

Pada data (10) majas persinifikasi diwujudkan kepala kijang yang seakan-akan bertingkah seperti manusia yang memikul beban penderitaan yang setiap saat bisa mengancam nyawanya, mengilustrasikan keadaan bawuk. Selain itu, (11)dalam majas ini Umar Kayam menyuguhkan gambaran waktu yang tidak memberikan kesempatan kepada manusia untuk berhenti dan berbalik arah. Waktu digambarkan sosok manusia yang kejam tidak brmurah ti dan terasa kejam bagi yang merasakannya.







Antitesis

Antitesis termasuk dalam gaya bahasa pertentangan. Antitesis sendiri merupakan jenis gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata secara berlawanan[10]. Antitesis yang digunakan Umar Kayam dalam pemilihan pengucapannya tampak dalam kutipan data beriku:

(12)                                          Alangkah muda dan tuanya anaknya itu. (hal 234)

(13)                                          Ayah-ibunya, penbantu-penbabtunya semua seisi rumah mesti mengetahuinya. (hal 226)

Pada data (12) penggunaan majas pertentangan antitesi  yaitu anata kata muda dan tua yang merupakan kta yang sling berlawanan. Demikian halnaya(13) penggunaan kata bapak ibu merupkan kata-kata yang bertentangan sehingga keeksttetonya akan terlihat.



Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa yang digunakan Umar Kayam  dalam cerpennya Bawuk sebagai berikut:(i) alegori, (ii) asosiasi, (iii) metafora, (iv) hiperbola, (v) personifikasi, dan (vi) antitesis.  

Gaya bahasa itu, dipergunakan secara intensif untuk menggambarkan bagaimana mengungkapkan penegasan, pertentangan, dan perbandingan dalam sebuah cerpen. Pemakaina gaya bahasa yang dipakai Umar Kayam sangat menarik dan mudah dicermati oleh para pembaca. Sehingga cerpen Yang berjudul Bawu ini mudah dicerna dan di pahami secara umum oleh para pembaca dan secara khusus penggemar karya sastra.













*******













[1] Tugas mata kuliah Pengkajian Prosa Program strata (S1) Pendidikan Bahasa dan Sastra STKIP PGRI Ponorogo yang diampu Drs. Sugianto, M.Pd
[2] Mahasiswa PBSI Reguler A 2007 Stkip PGRI Ponorogo.
[3] Sutejo, Stilistika,Yogyakarta:Pustaka Felicha:2010.hal 26
[4] Safijar, Sri Sumarah Kumpulan Cerpen Umar Kayam, Jakarta: 2005
[5] Sutejo, Stilistika,Yogyakarta:Pustaka Felicha:2010.hal 60
[6] Sutejo, Stilistika,Yogyakarta:Pustaka Felicha:2010.hal 28
[7] Sutejo, Stilistika,Yogyakarta:Pustaka Felicha:2010.hal 30
[8] Sutejo, Stilistika,Yogyakarta:Pustaka Felicha:2010.hal 29
[9] Sutejo, Stilistika,Yogyakarta:Pustaka Felicha:2010.hal 31
[10] Sutejo, Stilistika,Yogyakarta:Pustaka Felicha:2010.hal 28

Cinta Seorang Istri terhadap Suami Secara Tradisi Jawa dalam Puisi Isteri karya Darmanto Sujatman


Cinta Seorang  Istri terhadap Suami Secara Tradisi Jawa  dalam Puisi Isteri karya Darmanto Sujatman

Oleh: Erwin Purwanto

Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri lagi adalah kenyataannya bahwa seorang penyair/ seniman umunnya itu senantiasa dan niscaya hidup dalam ruang dan waktu tertentu. Di dalamnya ia pun senantiasa akan terlibat dengan beraneka ragam permasalahan. Dalam bentuknya yang paling nyata, ruang dan waktu tertentu itu adalah masyarakat atau sebuah kondisi sosial, tempat berbagai pranata nilai di dalamnya berinteraksi. Dalam konteks ini, sastra bukanlah sesuatu yang otonom, berdiri sendiri, melainkan sesuatu yang terikat erat dengan situasi dan kondisi lingkungan tempat karya itu dilahirkan[1]

Seorang penyair merupakn anggota masyarakat. Oleh sebab itu ia terikat dengan aturan sosial mayarakat yang berlaku. Sehingga karya sastra bisa dikatakan merupakn tiruan dari kenyataan sesuai pendapat Abram salah satunya mimetik yaitu karya sastra merupakan tiruan alam. Sastra dengan medium bahasa untuk membangun keestetisannya. Bahasa yang bersifat arbiter sesuai kesepakatan kelompok atau daerah tertentu.Karya sastra sangat berkaitan dengan sosial masyaraat, bahkan melekat didalamnya.

Perjalanan dalam karya sastra  persoalan percintaan tidak luput dari penyair. Setiap manusia pasti memiliki rasa ingin memiliki dan dimiliki, itulah cinta. Dalam masyarakat cinta memiliki berbagai ragam wajah, cinta itu kejam, cita itu pengorbanan, cinta itu indah, cinta itu berfikir. Dan sekian konsep cita dikenal masyrakat dan remaja kita[2]. Permasalahn cinta dalam masyarakat merupakan mepunyai tempat tersendiri. Kekuatan cinta akan merubah semua keadan yang tidak mugkin menjadi mungkin. Cinta begitu kuat, sebagai manusia biasa sering kalut di dalamnya. Keralaan dan pengorbanan merupakan unsur yang selalu mengikuti perjalanan cinta.

Demikian juga dalam kehidupan pasangan suami istri, mengharapan setiap pasangan hidup adalah perkawinan mereka dapat berjalan mulus sampai kaken-kaken dan ninen-ninen, seperti mimi lan mintuno (nasehat perkawinan setelah akad nikah orang Jawa). Kalau diartikan maka nasehat tersebut mengandung makna bahwa pernikahan itu diharapkan tidak terjadi perpisahan sampai tua, di ibaratkan seperti pasangan mimi mintuno, adalah hewan yang hidup di laut berpasangan sepanjang hidup, kalau mimi mati mintuno tetap setia hidup sendirian[3].

Permasalahn cinta dalam masyarakat mepunyai tempat tersendiri. Kekuatan cinta akan merubah semua keadaan yang tidak mugkin menjadi mungkin. Cinta begitu kuat, sebagai manusia biasa sering kalut di dalamnya. Keralaan dan pengorbanan merupakan unsur yang selalu mengikuti perjalanan cinta. Darmato Jatman di dalam puisinya yang berjudul Isteri mengilustrasikan sebagaimana kekuatan cinta seorang istri terhadap suaminya, serta pentingnya seorang istri bagi sang suami.

Darmato Jatman sendiri merupakan pakar pendidikan, beliau sebagai dosen Psikologi di Universitas Diponegoro Semarang. Karya sastra sudah banyak, salah satunya puisi yang berjudul Isteri. Karyanya banyak menggunakan berbagai macam unsur budaya atau mencampur adukan bahasa. Kedwibahasaan selalu menghiyasi karya-karyanya.



ISTERI



Isteri sangat penting untuk kita

Menyapu pekarangan

Memasak di dapur

Mencuci di Sumur

Mengirim rantang ke sawah

Dan mengeroki kita kalau kita masuk angin

Ya. Isteri sangat penting untuk kita



Ia sisihan kita

            Kalau kita pergi kondangan

Ia tetimbangan kita

            Kalau kita mau jual palawija

Ia teman belakang kita

            Kalau kita lapar dan mau makan

Ia segaraning nyawa kita 

            Kalau kita

Ia sakit kita!

Ah. Lihatlah ia menjadi sama penting dengan kerbau, luku, sawah dan pohon kelapa.

Ia kita cangkul malam hari dan tak pernah ngeluh walaupun capek. Ia selalu rapih menyimpan benih yang kita tanamkan dengan rasa syukur; tau terima kasih dan meninggikanharkat kita sebagai laki-laki. Ia selalu memelihara anak-anak kita dengan sungguh-sungguh seperti kita memelihara ayam, itik, kambing atau jagung.

                  Ah. Ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika kita mulai melupakannya:



Seperti lidah ia di mulut kita

tak terasa

Seperti jantung di dadakita

tak terasa



Ya. Ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika mulai melupakannya.



Jadi waspadalah!

Tetep, madep, mantep

Gemati, nastiti, ngati-ati

Supaya kita mandiri, perkasa dan pintar ngatur hidup

Tak tergantung tengkulak, apak dukuh, bekel atau lurah



Seperti Subbadra bagi Aruna

Makin jelita ia di antara maru-marunya;

Seperti Arimbi bagi Bima

Jadilah ia jelita ketika melahirkan jabangtetuka;

Seperti Sawitri bagi Setyawan

Ia memelihara nyawa kita dari malapetaka.



Ah. Ah. Ah.

Alangkah pentingnya isteri ketika kita mulai melupakannya.



Hormatilah isterimu

Seperti kau menghormati Dewi Sri

Sumber hidupmu

Makanlah

Karena memang demikianlah suratannya!

      Towikromo



Kecintan seorang isteri secara budaya jawa yang turun temurun harus pandai melayani sang suaminya yang istilahnya harus pandai macak, masak, dan manak agar suaminya bisa bertahan di rumah.

Isteri dalam  puisi Isteri karya Darmantao Jatman melambangkan sosok permpuan yang sangat diperlukan sang suami. Setiap saat melayani dengan penuh  cinta dan kerelaan dirinya. Kepandaian seorang isteri yang mengatur rumah tangga yang didasari kecintaannya sehingga tidak merasa lelah dalam menjalankannya.// Isteri sangat penting untuk kita/ Menyapu pekarangan / Memasak di dapur/ Mencuci di Sumur/ Mengirim rantang ke sawah / Dan mengeroki kita kalau kita masuk angin//

Belahan jiwa seorang suami adalah isterinya. Suami isteri merupakan pasangan hidup yang saling mengisi kekeurangn dan kelebihannya masing-masing. Dalam rumah tangga harus adanya keseimbangan di antara mereaka agar di dalam mengarungi bahtera rumah tangga tidak mengalami hambatan. Isteri sebagai pendamping hidup harus tau diri parannya serta apa-apa yang harus dilakukannya, sebaliknya sebagi suami harus tau posisi isterinya sehingga sang suami tidak merasa menang sendiri. //Ia sisihan kita/Kalau kita pergi kondangan/Ia tetimbangan /Kalau kita mau jual palawija/Ia teman belakang kita /Kalau kita lapar dan mau maka/Ia segaraning nyawa kita/ Kalau kita /Ia sakit kita! Kerelaan yang didasari kasih sayang yang kuat membuat perjalanan dalam menghadapi problem rumah tangga akan mudah diatasi.

Rumah tangga yag harmonis bisa terwujud apabila suami isteri bisa memenuhi hak dan kewajiban masing-masing.  Suami sebagai imam dalm rumah tangga dan isteri sebagai makmumnya, dengan demikian suami sebagai panutan dalam rumah tangga harus bisa membuat iklim rumah tangga yang sakinah mawadah warohmah. Isteri sebagai makmum harus mengerti bagai mana melakukan tugasnya agar terwujud kebahagiaan rumah tangga baik secara batin maupun lahir. Hal ini sesuai kutipan dalam puisi Isteri  yang mana dengan landasan rasa cinta yag luar biasa melayani sang suami tanpa rasa lelah.//Ia kita cangkul malam hari dan tak pernah ngeluh walau cape/Ia selalu rapih menyimpan benih yang kita tanamkan dengan rasa syukur/ Tahu terima kasih dan meninggikan harkat kita sebagai laki-laki/ Ia selalu memelihara anak-anak kita dengan bersungguh-sungguh//

Perjalanan kehidupan rumah tangga tak seindah kita bayangkan, ujian maupun cobaan akan ditemuinya setiap saat. Ujian dan cobaan tersebut kadang tak terasakan bahkan tak menyadarinya. Di sinilah kadang suami isteri megalami guncanagn dan saling menyalahkan serta membicarakn kekurangn masing-masing yang ujung-ujungnya membuat keduanya merasa tersinggung, akhirnya pertengkaran akan meledak. Isteri sebagai wanita yang lembut perasaanya dan sang suami sebagai laki-laki yang mempunya watak keras[4] akan membuat mereka saling menjatuhkan, sebetulnya  kekurangn dan kelebihan tersebut bisa membuat saling mengisi sehingga problem yang dihadapi akan teratasi.//Seperti lidah ia di mulut kita tak terasa/Seperti jantung ia didada kita tak tereasa// Kelembutan seorang isteri kadang membuat sang suami tidak merasa apa yang telah dilakukan sang isteri kepadanya. Kepekaan seorang suami harus dipertajam sebab istri ingin di puja dan dihargai.

 Isteri merupakan titipan atau amanh dari Sang maha kuasa. Kita sebagai suami  harus bisa membinanya dan mengarahkannya kearah yang lebih baik, demikian salah satu tugas suami[5]. Apabila isteri sakit atau terpaksa tidak bisa melayani suami, suami harus bisa memerankan peran isteri, tidak sebalinya selalu menuntut dalam keadaan apapun. //Jadi  waspadalah/Tetep, madep, mantep/Gemati, nastiti, ngati-ati/ Supaya kita mandiri, perkasa dan pintar ngatur hidup/Tak tergantung tengkulak, pak dukuh, bekel atau lurah//

Pengorbanan seorang isteri demi sang suami d an anaknyasangat luar biasa, nyawapun dijadikan taruhannya. Didalam perjalan hidup seorang isteri selalu mendukung dan mendoakan suaminya agar selamat. Kadang isteri tak menampakan pengorbanannya, kadang dipandang remeh akan tetapi kekuatan do`a seorang isteri sangat luar biasa bisa meruabah hal-hal yang dilakukan suami dari yang munngkin menjadi mingkin untuk menafkahi keluarganya.

Demikian juga, dalam merawat anaknya baik masih dalam kandungan sampai lahir dan membesarkannya. Kecintaan terhadap suami masih depertahannkannya walaupun adanya sosok anak dalam keluarga. Wujudnya adalah mendidik dan mengarahkan anak kearah yang baik menjadi anak yang soleh dan solekhah. .//Seperti Subadra bagi Arjuna/makin jelita ia di antara maru-marunya/Seoerti Arimbi bagi Bima/jadilah ia jelita ketika melahirkan jabang tetuka/Seperti Sawitri Bagi Setyawan/ia memelihara nyawa kita dari malapetaka// Kepandaian isteri membagi waktunya untuk anak dan suaminya, demikian itu merupakan wujud kecintaan kepada suami.

Wanita dalam rumah tangga sangat besar dan mulia tugasnya. Mengurusi halaman depan sampai halaman  belakang. Tidak mengenal lelah maupun berkeluh kesah.//  Hormatilah isterimu/Seperti kau menghormati Dewi Sri/Sumber hidupmu/Makanlah/Karena memang demikianlah suratannya!//Perempuan yang luarbiasa dan berharga untuk kebahagiaan dunia akherat.

Isteri yag digambarkan oleh Darmanto Jatman merupakan sesuatu yang mahal serta sangat berharga bagi laki-laki atau suami. Sehingga puisi tersebut mampu membawa dan menggiringi pembaca untuk mengarungi perjalanan hidup yang memotret kecintaan isteri terhadap suami dalam tradisi jawa.  Cinta yang mengikat akan membawa suami isteri kearah kebahagiaan yang luar biasa. Isteri, yang sejatinya dalam sejarah islam merupakan sebagian dari tulang rusuknya laki-laki, tidak salah kalau dalam jawa Isteri/garwo  diartikan sigaring nyowo atau separunya nyawa laki-laki.



00000000









DAFTRAR PUSTAKA





Fakih.1999. Analisis Gender. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Jobrohim. 2002. Metdologi Penelitian Sastra. Yogyakarta:Hanindita

Sutejo,Kasnadi. 2009. Kajian Puisi Teori dan Aplikasinya. Yoyakarta: Pustaka Filicha

Yasin. Rahasia Ketajaman Mata Hati. Surabaya: Terbit Terang

Zainudinn. Kehidupan Suami Istri Lansia & Faktor Budaya. budhidharma.depsos.go.id





[1] Jobrohim.Metdologi Penelitian Sastra. Yogyakarta:Hanindita.2002.hal.157
[2] Sutejo,Kasnadi.Kajian Puisi Teori dan Aplikasinya. Yoyakarta:Pustaka Filivha.2009.hal.129
[3] Zainudinn, Kehidupan Suami Istri Lansia & Faktor Budaya, budhidharma.depsos.go.id
[4] Sedangkan konsep gender, yakni suatu sifat yag melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yag dikontruksi secara sosial maupun kultur. Misalnya, bahwa perempuan itu dikenal lemah lembut, cantik, emosional, atau keibuan. Sementara laki-laki dianggap: kuat, rasional, jantan, dan perkasa. Ciri dari sifat itu merupakan sifat-sifat yang dapat dipertukarkan. Artinya ada laki-laki yang emosional, lemah lembut, keibuan, sementara juga ada perempuan yang kuat, rasional, dan perkasa(Fakih. Analisis Gender.Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999)
[5] Sikap seorang suami sebagai haknya  isteri misalnya, dia tidak terlalu bercumbu rayu, tidak mengikuti hawa  nafsunya yang sampai merusak budi pekerti isteri, sehingga kewibawaan lelaki hancur dihadapan isteri. Namun semuanya harus dijaga sewajar-wajarnya/tidak berlebih-lebihan (Yasin. dalam terjemahan kitab Mukkasyafatul Qulub)

ayat-ayat Tuhan


Makan minum adalah rutinitas sehari-hari. Bukan makan nasi atau minum air saja, akan tetapi memakan segala lini kehidupan yang telah terjadi, dari bangun samapai tidur kembali. Banyak hal yang bisa dimakan, misalnya peristiwa yang dijalani setiap saat bahkan setiap detikpun, semua memiliki dan mempunyai pesan-pesan yang harus dipecahkan. Kita tanpa memecah apa yang terkandung di dalamnya, kita justru akan merugi besar. Ya…. Memang sepintas tidak ada apa-apa, akan tetapi apabila kita mau menggali lebih dalam lagi dan mau membuka cakra wala pemikiran kita, baik secara ilmu pengetahuan atupun ke agamaan pasti ka mengerti semua apa yang telah kita lewati.

 Dunia memang membingungkan, kadang mendukung kita kadang kali menjrumuskan kita pada kenistaan. Kenikmatan yang sudah kita dapat, justru kita merasa kurang serta selalu serba kurang. Peristiwa yang terjadi atau permasalahan yang kita jalani pasti memiliki dan mempunyai tujuan, siapa yang mengadakannya???, pastilah Tuhan yang Maha Bijaksana. Dengan teguran dan sapa-Nya yang berupa percikan peristiwa setiap detik, tak terasa kita dibimbing dan diarahkan kearah yang benar. Merasa atau tidak, menyakini atau tidak tergantung hati kita. Kekerasan hatilah yang mmenbuat kita tak bisa membaca ayat-ayat Tuhan yang luar biasa yang setiap detik selalu menyertai hidup kita.

Dari alam kita bisa mengetahui betapa alam mempunyai nialai-nilai pembelajaran yang sangat besar sekali. Miasalnya, ketika melihat pohon yang mana ketika malam merundukkan daun dan rantingnya ke bawah, ini mensyaratkan kita ketika saatnya beribadah kepada Tuhan, yang harus dilaksanakan. Pada waktu siang Pohonan berdidri kekar, daun-daun segar antusias memeasak makannanya untuk bertahan hidup, demikian juga manusia harus bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk bekerja sungguh-sungguh untuk mendapatkan atau bisa makan untuk bertahan hidup.

Kita diberi akal dan pikiran oleh Tuhan Ynga Maha Kuasa dan Bijaksana, kenapa kita tidak menggunakannya. Apakah kita duduk-duduk nyaNtai bisa bertahan hidup, Kan Gak Toooo….????  Apapu bisa menjadi sumber rizki, tinggal kita mau GGGGAAKKKK uNTUk memanfaftkan apa yang ada di dekitar kita. Ya … kita harus bersungguh-sungguh untuk bertahan hidup apa lagi merUbah nasib yang buruk menjadi baik itu semua butuh proses. Dan juga ber do’a kepada Yang Maha Kuasalah. Dialah yang mengatur segala gerak-gerik di dunia dan di langit, Dialah yangmngusainya, kita sebagai makhluk yang amat kecil kita tak kuasa melawa-Nya. Kita harus tunduk dan patu kepada Perintah dan laranan-Nya. Seering berjalannya waktu kita harus mampu memupul keimanan kita, pandai membaca ayat-ayat Tuhan

Friday, 11 March 2011

Orek-orekan...


“Tempat Mengaji yang Hilang”
Pagi yang cerah, suara kicau burung kutilang di pohon sawo dekat sawah asyik memakan buah sawo yang agak mentah. Terdengar sangat merdu nan sahdu, seakan-akan mengusik ketenangan di balik langit biru. Awan yang hitam tipis menyelimuti desa yang sangat sunyi  dihiasi pohon-pohon kayu manis. Burung-burung berterbangan kesana kemari tak merasa dibebani. Berantusias mencari isi perut yang sangat mengusik ketenangan mereka.
Terlihat di ujung jalan segrombolan burung kutilang yang asyik memakan buah sawo matang, sesekali  bersiul menyapa cerahnya sinar sang mentari pagi menyimuti keindahan alam pertiwi. Burung-burung terbang ketika Mi’un berjalan menuju rumah, pohon sawo yang miring menjulur ke tanah yang semasa kecil merupakan tempat bermainnya.
  Bu masak apa ni?” tanya Mi’un sambil memotong tempe. ”Ini lo le buat makanan dibawa ke masjid, kan ini tadi muludan to?” jawab ibunya Mi’un sambil menanak nasi. Mi’un tiba-tiba mendekat ke tempat api yang menyala untuk menghangatkan badan. “O iya Bu, aku kok lupa! Seperti tahun-tahun kemarim to Bu ,para remaja diikutkan semuanya to?” tanya Mi’un yang sesekali memasukkan kayu bakar ke tungku. “Seharusnya gitu, tapi anak muda sekarang mana mau mengikuti acara gituan, senangnya kan cuman lihat dangdut terus jogetan ujung-ujungnya mabuk buat keributan”. Masjid yang dulu dianggap sakral sekarang dicuwekin begitu aja, hanya seglintir orang-orang tua yang mau datang dan meramaikannya.
Mi’un yang baru datang dari kota tempat ia kuliah, melepaskan kerinduan di desanya. Tanpa memakai alas kaki lari-lari kecil menylusuri jalan setapak yang masih makadam belum diaspal. Sesekali berhenti menyapa orang-orang yang dilewatinya, dan mengamati perubahan bentuk fisik bangunan disekitar desanya. “Gong…!” Mi’un sambil memegang bahu bagong. “Lo  kamu to mas kapan pulangnya ?” Bagong yang asik bermain dengan adik kecilnya tersentak kaget ketika dipegang bahunya oleh Mi’un dari belakang dengan keras. “ O tadi malem, eh mushola tempat kita ngaji dulu kemana kok tidak ada, kok cuman pondasinya doang?” tanya  Mi’un keheranan. “Kamu sih jarang pulang gak pernah mengunjungi tempat kita ngaji dulu, ya.. kayak gitu sekarang hilang gak ada muridnya terus gak ada yang mengurusi, semua sibuk mencari uang buat hidup”.
Bagong sambil duduk dengan Mi’un, kemudian menceritakan bahwa masyarakat sudah tidak lagi mempercayai mereka dan anak-anak kecil di sini diasuh dan diajari ngaji ilmu agama oleh pak Ahmat yang sangat alim. Mushola tempat ngajinya dulu sekarang sudah terbengkalai dan hanya digunakan oleh keluarga pak Taufik, sudah bukan rahasia lagi waktu dibongkarnya banyak konterversi di masyarakar. Dari pihak pak Taufik sendiri mushola itu masih mengaku milik masyarakat.  Masyarakat tidak mau mengakuinya dan alhasil semua masyarakat sepakat membuat mushola baru untuk  kegiatan agama di lingkungan sekaligus buat untuk  mengajari anak-anak kecil. Karena keluarga pemilik mushola jarang mengikuti acara ke agamaan yang diadakan lingkungan, maka banyak yang menganggap mereka orang-orang priyai yang gak mau berbaur dengan masyrakat. Mereka ingin mendirikan pondok pesantren namun Tuhan belum mengijinkan.
Mi’un mendengar cerita dari Bagong terlihat mukanya kusam. Tempat pertamakali mencari ilmunya kini tinggal nama saja dan kenangan belaka. “Ah itu dulu roda terus berputar kadang di atas kadang di bawah”, keluh Mi’un.
Sang mentari perlahan merayap ke atas melaksanakan tugas rutinitas. Sinar sang mentari mulai kelihatan, Mi’un segera pulang teringat acara muludan di Masjid akan dimulai. Dengan semangat ingin mengulangi semasa kecilnya Mi’un bergegas menuju sumur yang sudah tua masih memakai kerean dengan memakai karet ban yang panjang. Terdengar suara “krek...krek... krek” ketika Mi’un menimba air sumur yang berkedalaman tujuh meter dan berdiameter dua meter. Sumur yang merupakan umurnya   jauh lebih tua dari umur Mi’un, kini masih digunakan oleh keluarganya.
“Ayo Ta… kita berangkat ke masjid, cepat keburu ketinggalan” ajakan Mi’un kepada adiknya. La bapak mana lo mas ..?”. “Tu masih pakek sarung, yuk kita berangkat bersama-sama..!” ajakan Mi’un. Di jalan  terlihat teman-teman Dita bersepeda riang kesana kemari menikmati liburan sekolah. “Lo…lo… gimana ini nasi kendurinya ketinggalan , wah susah-susah buatnya gak di bawa to?” teriak ibu dari dapur. Oaaiya  Bu kelupaan ..Dita kok diam aja sih.. gak bilang” lanjut Mi’un.
Nasi kenduri yang terisi makanan yang khas, ada nasi kuning, kentang yang digoreng, kering yang terbuat dari tempe diirisi tipis-tipis, dan tak terlewatkan telor mata sapi. Semua dibungkus rapi dari daun pisang ditempatkan diatas pelepah daun piasang yang sudah dikasih anyaman bambu.  Semua nasi tersebut dikumpulkan jadi satu di serambi masjid, dibagikan setelah acara selesai.
Acara segera dimulai ketika semua jamaah masjid kumpul, acara sangat berjalan lancar dan meriah .Alunan rebana khas di bunyikan untuk mengiringi syair-syir shalawat nabi yang lirik lagunya tidak ketinggalan jaman. Sesekali Mi’un ikut melantunkan  syair-syair, yang diyakini ketika shalawat dikumandangkan seaka-akan  Kanjeng Nabi Muhammad Saw datang ditengah-tengah mereka. Suara-suara lantunan lagunya sangat menyentuh hati, tapi bagi Mi’un ada sesuatu yang mengganjal dipikirannya. Mi’un teringat ketika masa-masa kecil biasanya sebelumnya acara seperti ini di mushola malam harinya diadakan juga. Teringatnya teman-teman yang masih mungil-mungil belum mengenal dosa terlihat menghayatinya dan bersaing melirikkan lagu-lagu yang baru. Mushola yang tidak terlalu besar, akan tetapi terlihat luas dan kompleks ilmu agamanya. Anak-anak yang berjumlah sekitar dua puluh ditambah pak Rojak bersemangat menyambut hari kelahiran Nabi Muhambad SAW. Mi’un yang sering memgang bass dan sambil menjadi vokalisnya. Teman-teman yang lainnya mengikuti alunan syair-syair yang dibawakan Mi’un, kadang memberikan usulan lirik lagu-lagu yang sesuai masanya dari campur sari sampai lagu-lagu pop maupu dangdut. Apalagi pak Taufik sangat lihai memainkan rebananya dan mengotak-atik syair-syair tersebut. Semua kemaun teman-teman dilayaninya dengan senang hati, diharapkan lantunan syalawat tidak punah dan mlahan bisa berbaur dengan kemajuan ilmu dan tegnologi.
Dengan jumlah dua puluh anak, yang sepuluh memainkan rebana yang selainnya memainkan tari-tarian yang khas. Dengan struktur sepuluh pemain rebana berjajar di belakang, di dipannya berbaris lima anak yang saling berpasangan. Tarian yang mengutamakan ketrampilan tangan terlihat sangat menarik apabila semuanya kompak, ditambah permainan bunyi tepuk tangan yang sudah diatur sehingga meimbulkan nada yang sangat menarik. Apabiala dari salah satu dari mereka yang memerankan peran salah, yang lain memarahi sambil menjenggungi kepalanya.
Lantuna syair sudah selesai mereka terliahat semangat, sebab dari jajanan maupu minuman yang sudah di siapkan istrinya pak Taufik waktunya menyantap. Lem yang terlihat di mata mereka sekejab hanyaut ketika secangkir teh hangat dihirup mereka  
 Wah pokoknya asyik deh”  keluh dalam hati.
Acara mauludan udah selesai acara yang ditungu-tunggu telah tiba, pembagian nasi kenduri telah dimulai. Mi’un memakan lahap hidangan yang telah disajikan, mengeskpresikan kerinduan terhadap masakan desa, “maklum di kota suasana seperti ini jarang ditemuinya” kata Mi’un sambil mengunyah makanaan ketika ditanyai orang didekatnya. Orang yang disampingnya adalah oseorang tua yang diakrapinya sejak dulu sebut saja mbah Kun. “Mbah ena ya…? juwarang lo mbah aku di kota menemukan makanan kayak gini”. Masakan yang masih murni dari tangan-tangan ibu- ibu desa yang ketika membuatnya penuh dengan setuhan-sentuhan lembut. Semua lauk-pauknya seragram dan mempunyai nilai tersendiri, ibu- ibu tidak mau mengganti menu makanan-makan yang lain, disebabkan mempunyai berkah tersendiri.
Sambil makan, mbah Kun menceritakan tentang mushola tempat ngaji Mi`un  sekarang yang sudah berubah. Pak Taufik yang merupakan pemegang mushola menginginkan musholanya dijadikan tempat pendidikan yang pembangunannya menghabiskan uang ratusan juta. Proposal sudah sampai keman-mana baik  tokoh-tokoh politik,pengusaha, bupati maupun anggota DPR pusat. Dalam kenyataannya dalam proses pembangunannya sampai sekarang belum terwujud, malahan terbengkalai sepereti hanya pondasi yang terlihat. Sebetulnya masyarakat mendukung keinginan pak Taufik tapi, dana yang digunakan bercampur dengan uang-uang yang tidak jelas asal usulnya. Kenyataannya kemarin ada tim penyelidik datang kerumahnya Pak Tufik, menanyakan uang dari salah satu penjabat yang menyumbangkan dana untuk pembangunan, dana yang digulirkan sangat lumayan besar. Tidak masalah itu saja, pak Taufik sendiri terganjal utang bank yang cukup banyak, lebih tragisnya tempat pendidikan belum terwujd, malahan beliau membangun rumah bagian belakang. Masyarakat tidak menduga masalah yang ditanggung pak Taufik sebegitu besar dan harus diselesaikan.
“Mbah sepupunya pak Taufik yang dari  Arab Saudi itu dengar-dengar pulang?” tanya Mi’un sambil memegang telur mata sapi. “Ya betul dia pulang sudah sebulan yang lalu, denger-denger dia mau mbangun mushola yang sudah dirobahkan dijadikan masjid” jawab mbah Kun. “Ukh..ukh… ukh.. apa mbah? Masjid..? Masjid sebesar ini saja jarang yang mau mengisi, untuk apa mbah ?apa dia mau buat aliran sendiri?” tanya Mi’un sambil tersedak kaget tercengang.
Awan putih menggumpal di angkasa yang biru. Burung sriti menari-nari dipanasnya terik matahari. Terbang menembus panasnya siang, angin sepoi-sepoi menyapa sang panas, pohon-pohon gembira menari-nari tak merasa apa yang mereka cari. Sepasang burug kutilang hinggap di atas daun pisang, mereka asyik bercumbu riang, sesekali membelokkan kepala, sesekali diam merana. Kicauan merdu yang kencang membuat hawa panas berganti tenang.
Di  halaman rumah Mi’un yang rindang terhiasi pohon cemara yang tinngi, tampak segrombolan ayam asyik bermain debu sambil sesekali mencari mangsa untuk mengganjal perunya. Terlihat ayam betina membawa kecoak yang kemudian direbut oleh ayam-ayam kecil yang mungil.
Mi’un terlihat kelelahan di ruang tamu, terlihat sepasang sandal terbuat dari kayu yang terkenal disebut sandal bakiyak menemaninya dengan setia. Datanglah seorang wanita yang terlihat masih menawan aduh hai semasa mudanya menghampiri Mi’un yang sedang baca koran. “Ini le tehnya, ini sepesial buat kamu cucuku yang tersanyang” tawar nenek Mi’un. “Oi ya nek…” tiba –tiba nenek Mi’un memberi nasehat kepada Mi’un bahwa prinsip orang itu dengan logat jawa yang khasnya entek golek ra duwe utang sing penting gak ngapusi( kalau habis mencari, tidak puya uang pinjam  yang penting tidah membohongi) itulah pesannya kepada Mi’un untuk meng hadapi segala permasalahan yang ada.
Sang mentari lelah bekerja seharian, malam pun tiba, suasana yang ramai sekejap berubah sepi. Di ujung jalan, suasana di warung Mbok Rondo terlihat ramai sekali, terlihat para pembeli menikmati secangkir kopi pembuatan Mbok rondo yang masih berwajah berseri-seri. Mbok Rondo yang lama ditinggal suaminya kawin lagi, dan mempunya anak satu berumur tujuh tahun. Untuk mengisi kesepiaannyua di depan rumahnya dibuatnya warung penjualan jajanan sampai larut malam. Sesekali para pembeli bercanda dan megejeki mbok Rondo.  Waaaa…duh nomorya terbalik satu angka, wah gak bayaran ki...!” keluh salah satu pembeli sambil menghirup secangkir kopi . “Berapa- berapa nomor kamu…?” tiba-tiba Mbok rondo memotong pembicaraan. “Coba lihat ini Mbok 8396 tapi punyaku 8399, gilA ikiI..!” sudah aku rencana dari rumah tadi uang yang aku dapat untuk bayar daftar ulang anak yang masuk SMP, lah.. ternyata mleset!” keluh pembeli tadi. “Sabar kang itu masih bukan rizki kamu…!” sahut Mbok rondo. Tiba-tiba pak Taufik datang menanyakan nomor yang keluar hari ini. “Din gimana nomor yang aku kasih kemarin nyangkut gak..?” mbOten Mas, cuman geseh satu angka.


Puisi

"Awan" Oleh:  Kang Win Awan mulai menylimuti matahari Cahaya panas kian menghilang Bak sirna dalam ke Hirupikukan Tak ada awan, t...